Tergadai Dengan Rupiah-nya Sendiri
Benar-benar memprihatinkan kondisi Indonesia kini. Sebagai bentuk keniscayaan demokrasi yang dulunya memang diharapkan mampu memberikan kenyamanan, keadilan, eksistensi damai dan kontribusi sosial yang mapan, kini menjadi momok yang menakutkan bagi rakyat—terlebih rakyat kecil.
Hanya menulis rasa kecewa dalam hati tentang ketidaknyamanan pelayanan sebuah instansi ternama melalui email, dihukum 6 bulan penjara dan didenda Rp. 204 juta. Hanya gara-gara mencuri 3 buah kakau (coklat), seorang nenek tua yang tak tahu apa-apa dituntut hukuman 1 tahun 3 bulan penjara oleh sebuah perusahaan. Hanya gara-gara salah menebang pohon yang menutupi jalan, seorang kakek dituntut hukuman 8 bulan penjara.
Rakyat yang tak ber-uang kini seperti jewantah mayat busuk, yang tinggal membuang ke kali—tidak dikubur, sebab takut akan mengotori tanah. Berjayalah manusia yang dilahirkan dari lubang vagina seorang istri pejabat korup yang kaya dan mampuslah orang yang keluar dari rahim istri seorang buruh bersahaja…
Belum lagi pertikaian antara POLRI dan KPK (dua lembaga yang mutlak menjadi pelindung rakyat) yang entah kapan akan berujung. Saling tuding salah-menyalahkan satu sama lain, seolah-olah hanya ingin berebut “SIAPA YANG INGIN LEBIH DULU MASUK NERAKA”.
Indonesia kini bingung sebingung bingungnya, “rupiah” yang ia bikin untuk memakmurkan diri dan seluruh anggota tubuhnya, malahan kini berani menggerogoti hati, pikiran bahkan jiwa-nya hingga hancur berkeping-keping. Setelah hancur, “rupiah” itu sendiri yang mencampakkannya ke selokan. Indonesia-pun kini hanya tinggal meratapi siapa yang bisa dan sudi mengangkat dan membenahinya seperti dulu kala masa jayanya terukir dalam sejarah dunia sebagai “tanah surga”.
Atau mungkin masih ada “satrio piningit” lain yang bersembunyi dan belum menampakkan diri, ataukah mungkin belum terlahir di bumi pertiwi ini?
Namun setidaknya kita-kita orang kecil, masih mau ber-tafakkur dan saling bertegur sapa, menjalin ikatan lahir batin, tali silaturrahim sekokoh-kokohnya agar kelak jika satu terperosok maka yang lain akan membantu menariknya kepermukaan, hingga selamat seluruh negeri…
Semoga…
Hanya menulis rasa kecewa dalam hati tentang ketidaknyamanan pelayanan sebuah instansi ternama melalui email, dihukum 6 bulan penjara dan didenda Rp. 204 juta. Hanya gara-gara mencuri 3 buah kakau (coklat), seorang nenek tua yang tak tahu apa-apa dituntut hukuman 1 tahun 3 bulan penjara oleh sebuah perusahaan. Hanya gara-gara salah menebang pohon yang menutupi jalan, seorang kakek dituntut hukuman 8 bulan penjara.
Rakyat yang tak ber-uang kini seperti jewantah mayat busuk, yang tinggal membuang ke kali—tidak dikubur, sebab takut akan mengotori tanah. Berjayalah manusia yang dilahirkan dari lubang vagina seorang istri pejabat korup yang kaya dan mampuslah orang yang keluar dari rahim istri seorang buruh bersahaja…
Belum lagi pertikaian antara POLRI dan KPK (dua lembaga yang mutlak menjadi pelindung rakyat) yang entah kapan akan berujung. Saling tuding salah-menyalahkan satu sama lain, seolah-olah hanya ingin berebut “SIAPA YANG INGIN LEBIH DULU MASUK NERAKA”.
Indonesia kini bingung sebingung bingungnya, “rupiah” yang ia bikin untuk memakmurkan diri dan seluruh anggota tubuhnya, malahan kini berani menggerogoti hati, pikiran bahkan jiwa-nya hingga hancur berkeping-keping. Setelah hancur, “rupiah” itu sendiri yang mencampakkannya ke selokan. Indonesia-pun kini hanya tinggal meratapi siapa yang bisa dan sudi mengangkat dan membenahinya seperti dulu kala masa jayanya terukir dalam sejarah dunia sebagai “tanah surga”.
Atau mungkin masih ada “satrio piningit” lain yang bersembunyi dan belum menampakkan diri, ataukah mungkin belum terlahir di bumi pertiwi ini?
Namun setidaknya kita-kita orang kecil, masih mau ber-tafakkur dan saling bertegur sapa, menjalin ikatan lahir batin, tali silaturrahim sekokoh-kokohnya agar kelak jika satu terperosok maka yang lain akan membantu menariknya kepermukaan, hingga selamat seluruh negeri…
Semoga…

3 comments:
Mengenaskan memang, mirip yang Anda posting ini Indonesia sekarang
Setuju sekali. Makannya mari kita bangkit, kita bertindak, kita berperan, khususnya ya remaja dan pemuda!
hhhmmmm bener banget sob. miris juga dengar berita seperti itu...
semoga satrio piningit yang "mungkin" masih belum nampak, segera keluar :)
salam kenal ya...
Post a Comment