Sunday, September 6, 2009

Agama dan Pasar Hiburan

Ramadhan ternyata tidak hanya menjadi bulan berkah bagi para ustadz dan dai, tetapi juga bagi para artis.

Lihat, hampir tiap malam menjelang sahur, prime time televisi banyak diisi artis dengan gaya jenaka. Belum lagi acara prime time yang disuguhkan melalui sinetron, terutama di RCTI, Indosiar, dan SCTV, yang dari tahun ke tahun selalu menampilkan artis-artis yang sama (Zaskiya Adya Mecca, Deddy Mizwar, Anjasmara, Sahrul Gunawan, dan lainnya).

Fenomena ini menunjukkan, industri hiburan menjadi komoditas yang mampu menarik perhatian meski di bulan Ramadhan yang secara normatif umat Islam diperintahkan untuk memperbanyak ibadah. Seakan-akan industri hiburan sedang berlomba dengan umat Islam yang memperbanyak ibadah di malam hari. Siapa yang menang? Tentu saja, industri hiburan dengan suguhan acara yang memikat, menghipnotis, dan menjebak pemirsa.

Industrialisasi Agama

Meski menjadi bulan suci, waktu bagi umat Islam menunaikan puasa, memperbanyak ibadah dan sedekah, Ramadhan tetap tidak bisa dilepaskan dari isapan industrialisasi. Dalam bahasa lain, di bulan Ramadhan ini "agama" masuk perangkap pasar hiburan. Logika pasar pun mensyaratkan beberapa hal untuk kelangsungannya. Karena itu, terjadi adaptasi, akomodasi, dan penyesuaian "agama" terhadap pasar hiburan secara signifikan.

Lihatlah para ustadz hanya ditampilkan dalam fragmen paling sedikit ketimbang pelawak yang mendominasi program sahur televisi. Lihat, berapa lama para ustadz tampil di program sahur Ramadhan di Sahur Yuk (Indosiar) dan Bukan Buka Biasa(RCTI) dibandingkan dengan gaya pelawak yang mencoba menghibur pemirsa.

Inilah industri hiburan di televisi yang tidak bisa dikalahkan dengan panorama agama yang menampilkan dakwah. Ketika agama hendak masuk ke pasar hiburan, agamalah yang menyesuaikan pasar hiburan. Dengan alasan tidak laku, tidak layak jual, rating rendah, dan sebagainya, agama harus menjadi subordinat dalam pasar hiburan. Sayang, fenomena ini tidak secara sadar ditangkap pemirsa (umat dan agamawan) sehingga yang terjadi adalah industrialisasi agama. Karena pada dasarnya, perkawinan tidak seimbang agama dan industri hiburan memarjinalkan agama dalam kutub komersialisasi.

Dampak terbesar industrialisasi adalah kian maraknya budaya konsumtif (consumer culture) dalam kehidupan masyarakat. Secara terminologis, budaya konsumtif diartikan sebagai: 1) suatu kekuasaan kultural dalam masyarakat kapitalis modern yang berorientasi kepada pemasaran dan pemakaian barang dan jasa pelayanan. 2) Suatu kultur yang membedakan status dan membagi pangsa pasar dari masyarakat modern saat cita rasa individu tidak hanya merefleksikan lokasi-lokasi sosial (umur, gender, pekerjaan, etnik, dan sebagainya), tetapi juga merefleksikan nilai-nilai sosial dan gaya hidup individu, para konsumen (Collin's Dictionary of Sociology, 1991).

Tentu saja, logika yang dibangun pasar hiburan adalah mengindustrialisasikan agama. Maka, agama harus menjadi komoditas yang cepat dan banyak dibeli masyarakat. Tak heran jika Ustadz Jefry Bukhori harus tampil atraktif di depan kamera, sinetron religius dibungkus logika pasar dengan mistik dan kisah mengerikan, dan pengajian akbar para dai kondang dituntut tidak menurunkan rating.

Ini menunjukkan, agama sedang mengikuti dunia hiburan yang serba instan, cepat, populer, dan gaya hidup selebriti. Ketika masuk dunia hiburan, agama akan mengalami hal yang sama; serba instan dan populer. Tidak perlu kualitas, bobot, dan dampak terhadap kehidupan religius masyarakat. Karena yang penting adalah rating naik sehingga iklan berdatangan.

Dengan logika ini, agama diindustrialisasikan menjadi komoditas yang laku dijual ke publik. Jika tidak bisa dijadikan komoditas pasar, agama harus menyingkir dari pasar hiburan; kembali ke habitatnya jauh dari selebriti dan iklan.

Agama, Media, dan Keberpihakan

Menurut Alex Sobur, media (pers) sering disebut sebagai the fourth estate (kekuatan keempat) dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Hal ini disebabkan persepsi tentang peran yang dapat dimainkan media dalam kaitan pengembangan kehidupan sosial-ekonomi dan politik masyarakat. Bahkan, media--dalam posisinya sebagai institusi informasi--dapat dipandang sebagai faktor paling menentukan dalam proses perubahan sosial-budaya dan politik.

Tak heran jika agamawan butuh media sebagai alat penyebaran dakwah. Namun, menjadi ironis saat agamawan bersanding dengan pasar hiburan (dalam media). Meski populer dan dielu-elukan umat, tetapi karakter yang sebenarnya adalah lemahnya misi keberpihakan para agamawan terhadap masyarakat bawah (grassroot). Saat para agamawan berselingkuh dengan industri hiburan yang ada dalam bayang-bayang kapitalisme, sensitivitas mereka terhadap penyelesaian problem-problem masyarakat menjadi rendah. Bahkan, mereka telah kehilangan daya kritisnya terhadap kapitalisme yang menindas masyarakat kelas bawah.

Begitu pula media yang tergantung kapitalisme. Mau tidak mau, media harus tunduk pada ideologi pengerukan keuntungan bagi pemodal. Tak bisa tidak, media menjadi alat kapitalisme guna menarik keuntungan melalui program siarannya yang ditunjukkan dengan rating tinggi.

Karena itulah, keberpihakan agamawan terhadap masyarakat yang menjadi konsumen media harus dibangkitkan kembali agar kehidupan agama bukan sekadar lipstik, instan, populer, dan gaya hidup (life style) selebriti, tetapi menjadi hakikat keberagamaan yang mendasari cita-cita perubahan sosial di masyarakat.
Akankah terjadi perubahan?

Oleh: Khamami Zada
Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

3 comments:

JAKABANDA said...

Benar nih, kayaknya memang negara ini perlu dibenahi moralnya, pada ancur semua gara-gara nggak kenal nyang namanya al-qur'an

danny said...

bener banget ya...di acara tv bulan ramadhan, yang lebih diutamakan malah lebih ke aspek hiburan, bukan semangat beribadah.Mungkin satu atau dua tahun lagi, da'i dan ustadz juga dituntut tuk pandai "ngelawak"...wallahu a'lam

MAHA KATA said...

Menarik tuh kalo ustadz pinter "ngelawak"...